Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Selasa, 08 Mei 2012

Pengumpulan sampel tinja parasitologi

Untuk menegakkan diagnosa penyakit infeksi parasit, terlebih dahulu harus diidentifikasi parasitnya. Parasit tersebut dapat ditemukan pada bahan pemeriksaan (spesimen) baik dari darah, tinja, urin, sputum dan lain-lain cairan tubuh. Arasit tadi biasanya berupa telur cacing, larva cacing, trophozoite dan cyste dari suatu suatu Protozoa. Agar parasit dalam cairan tubuh tadi dapat diidentifikasi dengan mudah, maka mereka tidak boleh berubah bentuk atau rusak. Di sinilah letak pentingnya pembicaraan tentang pengumpulan spesimen dan penyimpanannya.

Sampel Tinja
Spesimen ini dapat diperoleh baik dari tinja yang dikeluarkan secara spontan oleh penderita maupun yang diperoleh sebagai hasil pemberian pencahar atau klisma. Biasanya penderita mengirimkannya ke laboratorium dalam suatu wadah karton atau botol. Apapun caranya untuk memperoleh tinja tadi dan wadah yang digunakan yang penting diperhatikan adalah jumlahnya dan cepatnya tiba di laboratorium. Umumnya untuk pemeriksaan tinja dibutuhkan minimal 20-30 gram tinja padat atau 2-3 sendok makan tinja cair. Sedangkan lama tinja di perjalanan sampai mencapai laboratorium maksimal adalah 1-2 jam setelah dikeluarkan oleh penderita. Jika tinja tadi tidak dapat segera tiba di laboratorium, maka diperlukan pengawet agar parasit yang dikandungnya tidak rusak.

Pengawetan Tinja
Tinja yang tidak dapat segera diperiksa di laboratorium, harus diawetkan segera setelah diperoleh dari penderita. Bahan pengawet yang sering digunakan adalah polyvinyl alcohol (PVA) atau cairan Schaudinn. Biasanya cairan ini dipergunakan alam perbandingan 1:3 dengan tinja yang akan diawetkan. Cairan Schaudinn biasanya digunakan untuk mengawetkan spesimen yang diperkirakan mengandung trophzoite dan cyste.
Di samping PVA digunakan juga larutan 5-10% formalin dalam perbandingan 1 bagian tinja dan 3 bagian formalin 5-10%. Larutan formalin digunakan terutama untuk mengawetkan cyste, larva, dan telur cacing. Orang juga sering menggunakan larutan merthiolate iodine formalin (MIF) sebagai pengawet sekaligus pewarna parasit. Larutan MIF dapat digunakan untuk mengawetkan segala bentuk parasit. Larutan merthiolate dan formalin dikemas secara terpisah dari iodine dan baru dicampurkan saat akan digunaka untuk mengawetkan tinja. Untuk mengawetkan 1 gram tinja dipergunakan 9,4 ml larutan merthiolate-formalin dan 0,6 ml iodine. Tinja yang telah diawetkan dengan cara di atas dapat disimpan sampai 1 tahun.

Swab anal
Pengumpulan spesimen dengan cara ini biasanya digunakan untuk memeriksa adanya telur Oxyuris vermicularis da Taenia saginata, tetapi dapat juga menemukan telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura.
Ada teknik tertentu untuk mengumpulkan spesimen dari anal yang dinamakan cellulose tape swab. Karena Oxyuris vermicularis tidak setiap hari menghasilkan telur, maka pengumpulan spesimen dari anus jangan sekali saja. Hal yang sama berlaku juga bagi pengumpulan spesimen untuk mendiagnosa Taeniasis saginata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates